Author: Opi Anggoro
•3:41:00 PM
aku berdiri di tepi pantai
kupandang langit biru yang perlahan menjadi orange
awan-awan yang berarak perlahan
ombak yang dengan cepatnya kembali ke laut tapi kemudian kembali ke pantai lagi
kugenggam botol berisi kertas terlipat yang kusumbat erat
kunamakan ia 'botol harapan'
satu...dua...tiga...
kulempar botol itu jauh-jauh ke tengah laut
kuhembuskan napasku
kulengkungkan senyumku
aku berdoa, semoga 'botol harapan' itu berlabuh di pantaimu
jadi kau bisa membuka dan membaca apa yang tertulis di dalamnya
itulah kalimat harapanku
kalimat yang tak mampu kuucapkan
hanya bisa kutuliskan
sudah ya...
aku pulang...
percayalah, ombak tak pernah meninggalkan pantainya.




:))
Author: Opi Anggoro
•12:01:00 AM
ketika semua terasa berat
semua terasa absurd dan membosankan.
tak ada tujuan dan alasan
stagnan...
untuk apa?
sampai kapan?
kubertanya pada hati
ia bilang, lanjutkan
tapi...aku lelah
musim gugur kembali datang
dengan angin dinginnya yang membuat hidung memerah
ooh...daun-daun oranye kecoklatan itu menyapa
langit yang memutih ingin bernostalgia
musim gugur yang menenangkan
sekaligus mencengkeram
ah...ini belum berakhir
daun-daun yang berguguran akan berganti dengan yang baru
bunga-bunga akan segera mengembang
tunas-tunas bermunculan
hei musim semi...
kemari...
kau yang kali ini kunanti





=]





Author: Opi Anggoro
•9:49:00 PM
Terkadang sempat terpikir, untuk apa semua ini? Ketika usaha yang telah dilakukan tak ada penghargaan sama sekali. Untuk apa? Benarkah tak ada pekerjaan yang sia-sia? Benarkah sabar itu membuahkan hasil? Benarkah senyum akan membawa kebahagiaan? Dan benarkah benarkah yang lain akan bermunculan lagi...

Ketika aku merasa jatuh dimana posisiku jauh dari tempatku harusnya bersandar, aku harus bagaimana? Haruskah aku berteriak memanggil penyandarku mendekat? Ataukah kubiarkan diriku terjatuh dan menunggu dengan harap agar penyandar akan tersadar dan menopangku berdiri?




Author: Opi Anggoro
•8:54:00 AM
Hal yang paling kutakutkan di dunia ini bukanlah serangan meteor-meteor luar angkasa ke bumi, bukan pula mutasi bunga Hibiscus hingga menjadi berwarna pelangi. Bagiku yang paling mengerikan dari dunia ini adalah perubahan dari penghuninya. Dunia berubah, waktu berubah, aktivitas berubah, rutinitas berubah, orang juga berubah. Manusia-manusia di sekitarku perlahan-lahan berubah menjadi alien. :(
Bukan alien yang akan menghancurkan bumi beserta seluruh isinya, tapi alien yang tak lagi kukenali. Alien yang bahkan tak berasal dari planet lain.
Feel alone....itulah efek dari perubahan alien itu padaku. Just feel, bukan sebenarnya pastinya...karena secara kasat mata aku tak sendiri.
Entahlah...
Hanya bisa berdoa semoga alien-alien itu segera kembali menjadi manusia. Karena, aku lelah berkomunikasi dengan alien yang tak kutahu bahasa dan maksud ucapannya.



Author: Opi Anggoro
•6:00:00 PM
Senja yang mengabu...
Udara yang tak berbayu...
Biarkan saja...
Nikmati apa yang ada
Ambil hikmahnya
Ada makna di setiap lembarnya
Biarkan senja bercerita
Biarkan ia berbicara
Karena dunia tak selamanya membara...







*sepotong senja di Jogja*
Author: Opi Anggoro
•9:50:00 AM
Ayo kita mulai menulis kisah.
Tak perlu muluk-muluk memikirkan akhir dari kisah ini.
Kita mulai saja dari lembar pertama.
Tak perlu menggunakan tinta warna-warni untuk mengawalinya,
pakai saja tinta hitam yang halus dan terbaca.
Seiring berjalannya waktu, lembar-lembar berikutnya akan terisi dengan tinta warna-warni tanpa kita sadari.
Bahkan, kita boleh menambahkan gambar pelangi dan senja.
Tulis saja dengan perlahan...
Lembar demi lembar...
Tak usah pikirkan bagaimana lembar terakhir yang akan menutupnya.
Tak usah juga kita hitung berapa lembar yang telah kita tulis.
Pikirkan saja bagaimana membuat tiap lembarnya berwarna dan berbeda.
Karena aku percaya akhir dari kisah ini sudah tertulis oleh tangan Tuhan dengan apik.



:)
Author: Opi Anggoro
•6:31:00 PM
Kapan terakhir kali kita memeluk Ayah kita? Menatap wajahnya, lantas bilang kita sunguh-sungguh sayang padanya? Kapan terakhir kali kita bercakap ringan, tertawa gelak, bercengkerama, lantas menyentuh lembut tangannya, bilang sungguh bangga padanya?

Paragraf di atas adalah sepenggal dari novel Ayahku (Bukan) Pembohong karya Bang Tere Liye.



Ya, novel ini memang bercerita tentang Ayah. Membaca novel ini benar-benar membutuhkan keberanian besar bagiku. Bukan apa, aku hanya tak siap dengan jalan ceritanya mengingat tulisan-tulisan Bang Tere Liye sebelum-sebelumnya sukses membuatku terhanyut. Apalagi novel ini bercerita tentang Ayah, butuh keberanian dan air mata lebih jika membacanya.
Ayah, aku terbiasanya memanggilnya dengan Bapak. Bapak buatku bukanlah sekedar seorang ayah. Beliau adalah penasehatku, hakimku, dan guruku, bahkan terkadang menjadi tempat sampahku. Bapak sering menasehati banyak hal saat kami berbincang-bincang berdua. "Jadilah orang yang berprinsip dan punya tekad" kalimat itu yang selalu kuingat dan menjadi pedoman hidupku sampai saat ini. Kalimat itulah yang beliau ucapkan beberapa hari sebelum keberangkatanku ke Jogja dulu.
Bapakku selalu sederhana, sederhana yang membuatnya luar biasa. :D

Novel ini... akhirnya aku punya keberanian untuk membacanya. Air mata sudah kupersiapkan saat aku mulai membuka halaman pertamanya. Aku terhanyut, sosok Ayah dan Ibu di novel ini sangat sempurna, keren. Tapi sampai setengah novel kulahap, air mata yang telah kupersiapkan tak jua keluar. Jalan cerita masih bisa kuikuti tanpanya.
Dan akhirnya menjelang bab-bab terakhir novel, banjir air mata melanda. Ceritanya benar-benar menyentuh, baru kali ini aku membaca novel sampai sebegitu banjirnya. Rekor novel yang kubaca banjir air mata adalah Negeri 5 Menara, aku tersentuh dengan semangat di novel itu. Tapi novel ini...Bang Tere Liye benar-benar daebak.
Sampai akhirnya kuputuskan menutup novel ini tanpa membaca endingnya terlebih dahulu. Aku ingat kalimat yang ada di belakang novel ini :

Mulailah membaca novel ini dengan hati lapang, dan saat tiba di halaman terakhir, berlarilah secepat mungkin menemui ayah kita, sebelum semuanya terlambat, dan kita tidak pernah sempat mengatakannya.

Karena kalimat itulah, kuputuskan untuk menunda membaca bagian akhir novel ini. Aku ingin saat membacanya nanti aku sedang berada di samping Bapak, sehingga aku bisa langsung memeluk dan menggenggam tangannya.

Bapakku bukanlah sosok yang sempurna, ia jauh dari kata itu. Ia juga tak pernah mencoba untuk menjadi sempurna. Bapakku apa adanya dengan kesederhanaannya, itulah yang membuatnya menjadi sempurna di mataku.





Teruntukmu ayah paling sempurna di seluruh dunia, Nirgo Yuswanto. :*





With love,


Opi Anggoro (pembangkang nomer satu-mu :p)