Author: Opi Anggoro
•9:50:00 AM
Ayo kita mulai menulis kisah.
Tak perlu muluk-muluk memikirkan akhir dari kisah ini.
Kita mulai saja dari lembar pertama.
Tak perlu menggunakan tinta warna-warni untuk mengawalinya,
pakai saja tinta hitam yang halus dan terbaca.
Seiring berjalannya waktu, lembar-lembar berikutnya akan terisi dengan tinta warna-warni tanpa kita sadari.
Bahkan, kita boleh menambahkan gambar pelangi dan senja.
Tulis saja dengan perlahan...
Lembar demi lembar...
Tak usah pikirkan bagaimana lembar terakhir yang akan menutupnya.
Tak usah juga kita hitung berapa lembar yang telah kita tulis.
Pikirkan saja bagaimana membuat tiap lembarnya berwarna dan berbeda.
Karena aku percaya akhir dari kisah ini sudah tertulis oleh tangan Tuhan dengan apik.



:)
Author: Opi Anggoro
•6:31:00 PM
Kapan terakhir kali kita memeluk Ayah kita? Menatap wajahnya, lantas bilang kita sunguh-sungguh sayang padanya? Kapan terakhir kali kita bercakap ringan, tertawa gelak, bercengkerama, lantas menyentuh lembut tangannya, bilang sungguh bangga padanya?

Paragraf di atas adalah sepenggal dari novel Ayahku (Bukan) Pembohong karya Bang Tere Liye.



Ya, novel ini memang bercerita tentang Ayah. Membaca novel ini benar-benar membutuhkan keberanian besar bagiku. Bukan apa, aku hanya tak siap dengan jalan ceritanya mengingat tulisan-tulisan Bang Tere Liye sebelum-sebelumnya sukses membuatku terhanyut. Apalagi novel ini bercerita tentang Ayah, butuh keberanian dan air mata lebih jika membacanya.
Ayah, aku terbiasanya memanggilnya dengan Bapak. Bapak buatku bukanlah sekedar seorang ayah. Beliau adalah penasehatku, hakimku, dan guruku, bahkan terkadang menjadi tempat sampahku. Bapak sering menasehati banyak hal saat kami berbincang-bincang berdua. "Jadilah orang yang berprinsip dan punya tekad" kalimat itu yang selalu kuingat dan menjadi pedoman hidupku sampai saat ini. Kalimat itulah yang beliau ucapkan beberapa hari sebelum keberangkatanku ke Jogja dulu.
Bapakku selalu sederhana, sederhana yang membuatnya luar biasa. :D

Novel ini... akhirnya aku punya keberanian untuk membacanya. Air mata sudah kupersiapkan saat aku mulai membuka halaman pertamanya. Aku terhanyut, sosok Ayah dan Ibu di novel ini sangat sempurna, keren. Tapi sampai setengah novel kulahap, air mata yang telah kupersiapkan tak jua keluar. Jalan cerita masih bisa kuikuti tanpanya.
Dan akhirnya menjelang bab-bab terakhir novel, banjir air mata melanda. Ceritanya benar-benar menyentuh, baru kali ini aku membaca novel sampai sebegitu banjirnya. Rekor novel yang kubaca banjir air mata adalah Negeri 5 Menara, aku tersentuh dengan semangat di novel itu. Tapi novel ini...Bang Tere Liye benar-benar daebak.
Sampai akhirnya kuputuskan menutup novel ini tanpa membaca endingnya terlebih dahulu. Aku ingat kalimat yang ada di belakang novel ini :

Mulailah membaca novel ini dengan hati lapang, dan saat tiba di halaman terakhir, berlarilah secepat mungkin menemui ayah kita, sebelum semuanya terlambat, dan kita tidak pernah sempat mengatakannya.

Karena kalimat itulah, kuputuskan untuk menunda membaca bagian akhir novel ini. Aku ingin saat membacanya nanti aku sedang berada di samping Bapak, sehingga aku bisa langsung memeluk dan menggenggam tangannya.

Bapakku bukanlah sosok yang sempurna, ia jauh dari kata itu. Ia juga tak pernah mencoba untuk menjadi sempurna. Bapakku apa adanya dengan kesederhanaannya, itulah yang membuatnya menjadi sempurna di mataku.





Teruntukmu ayah paling sempurna di seluruh dunia, Nirgo Yuswanto. :*





With love,


Opi Anggoro (pembangkang nomer satu-mu :p)

Author: Opi Anggoro
•7:50:00 AM
cahaya pagi yang muncul malu-malu
mengintip di balik awan yang kelabu
tetes-tetes embun yang berjatuhan
entah sejak kapan ia muncul di permukaan
tak ada yang pernah tahu kapan embun kan datang
ia hanya terlihat saat sudah menggenang
dan kemudian menetes...hilang bercampur dengan tanah
embun pagi yang suci
embun pagi yang penuh arti
embun pagi yang tak pernah kumengerti
ah, sudahlah
untuk apa memikirkan embun pagi
toh embun pagi atau sisa tetesan hujan semalam
tak ada yang peduli















Author: Opi Anggoro
•10:26:00 PM
Akhirnya tiba juga saat-saat ini. Galau karena proposal skripsi...gilak!!! Tak kusangka jariku berhenti menari ketika layar lepi menunjukkan judul SKRIPSWEET. Pengen menggalau tapi bingung dimana, di inbox temen ntar malah pada marah-marah, di twitter juga gak puas rasanya, di facebook rasanya sudah terlalu diumbar (lho?), akhirnya kubiarkan jariku menari dan mataku menatap sendu layar ini.
Ya ampun padahal ini baru proposal... Tuhaaaannnn... jantung ini sudah seperti diajak lomba lari sambil disco. Skripsi...skripsi...skripsi.... kata-kata yang dulu selalu diucapkan kakak-kakak tingkat dengan galaunya dan kutanggapi seperti angin lalu sekarang menghampiriku. Kalo kata seorang teman yang bernama Ayu Narkayatun, skripsi itu harus dicari nama lainnya supaya tidak terdengar terlalu menyeramkan. Bagaimana kalau kita beri nama saja dia Edward Cullen, si penghisap darah ganteng dan menawan. Atau kita sebut dia Voldemort, si jahat musuh Harry Potter yang saking jahatnya bahkan orang-orang menyebutnya 'Dia yang Tak Boleh Disebut'.
Ah, kurasa lebih baik kita sebut dia Jacob Black saja, si ganteng berbadan seperti besi tetapi menghangatkan. Huwaaa... jadi inget adegan di Breaking Dawn (dan tiba-tiba aku senyum-senyum sendiri). Stoooppp.... ini sudah gila namanya. Perjuangan baru dimulai.... Edward Cullen, Voldemort, Jacob Black, Kim Hyun Joong, Yonghwa, Naga Lyla atau bagaimanapun ia disebut, ia adalah proses yang harus dilewati untuk mendapatkan toga.
Semangaaaaaaattttt.....
Semangat untuk teman-teman yang sedang berkutat dengan skripsweetnya.... semoga menjadi momen-momen sweet yang tak akan pernah terlupakan di masa kuliah kita.


  with love,
Opi Anggoro
:)


Author: Opi Anggoro
•12:07:00 AM
Merry Christmas...
Selamat Natal, buat kamu yang pernah menjadi bagian dari mimpiku
buat kamu yang dulu pernah mengukir senyum di bibirku
buat kamu yang dulu pernah memahat nama di pikiranku
dan buat kamu yang selamanya hanya menjadi sebuah masa lalu
Selamat Natal...
kita sama-sama tahu, tak pernah ada 'kita' dalam cerita ini
tak pernah ada 'cinta' karena kita tak pernah mengatakannya
kita hanyalah dua orang manusia yang mencoba membuat kisah untuk dijadikan cerita, dulu
sekarang...semuanya telah membeku
seperti tumpukan salju yang selalu kau idamkan muncul di pucuk pohon natalmu
membeku kemudian mencair seperti air
mengalir seperti air wudhu yang kubasuhkan lima kali dalam setiap hariku
tak pernah ada 'kita'
yang ada hanya 'kau dan aku'
oke, itu hanyalah cerita lalu
dan lazimnya masa lalu hanya untuk dikenang dan dipelajari
Selamat Natal...
buat kamu yang tak akan pernah menjadi masa depanku




:)









Author: Opi Anggoro
•5:46:00 PM
Bagiku senja selalu indah.
Ada perasaan tak terkata ketika menatapnya
Gurat-gurat orangenya membuat matahari terlihat seperti jeruk Mandarin besar
Menakjubkan...
Aku selalu suka senja
Dimanapun kunikmati ia
Di jendela kamar kos
Di depan rumah dengan kombinasi rumput hijaunya
Di tengah perjalanan Jogja-Purworejo
Di antara sawah-sawah menuju rumah simbah
Di pucuk-pucuk bangunan daerah Kota Baru saat pulang kuliah
Di pantai
Dimanapun...
Senja selalu sama
Senja selalu indah, penuh arti
dan.... menenangkan
Senja...
Senja...
Senja...
Suatu hari, ingin kunikmati engkau di antara merah dan coklatnya daun musim gugur
Suatu saat...
Semoga...







dunia sempitku, 19 Desember 2012
menanti senja di Jogja :)
Author: Opi Anggoro
•12:10:00 AM
malam yang pekat...
gelap...
tak sempat terucap
bahkan untuk sesaat
apakah harus dengan isyarat?
sehingga membuatnya lebih kasat
bukan,
ini bukan sesuatu yang bersyarat
hanya pekat dan gelap pemberi isyarat
hingga tak ada penat